“Lynx tidak akan bisa melawan mereka sendirian,” bisik Karim. “Kita harus melakukan sesuatu.”

Sherly mengangguk. “Kita tunggu momen yang tepat. Jangan gegabah.”

Lynx menyiapkan anak panah lainnya, bersiap menghadapi Kargo dan pasukannya. Tetapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa pertarungan ini tidak akan mudah, dan ancaman besar baru saja dimulai.

"Sekarang!" Kata Leena memberikan instruksi.

Sherly dan Karim mengikuti Leena menembakkan panah kepara anggota suku Monrest, dan panah beracun tersebut langsung membunuh mereka.

Kargo menatap tubuh anak buahnya yang berserakan di tanah. Matanya menyala penuh kemarahan, dan ia mencengkeram tombaknya erat-erat. Suaranya menggelegar seperti raungan binatang buas.

“Dasar tikus-tikus bodoh! Berani kalian menyentuh pasukanku?!”

Lynx tetap berdiri di tengah jalan, busurnya terarah ke Kargo. Senyumnya sinis. “Kalau pasukanmu selemah itu, mungkin kau harus memilih yang lebih baik.”

Kargo mendengus marah. Ia berbalik ke arah sisa pasukannya. “Sebar! Temukan mereka semua! Tidak ada satu pun yang boleh lolos!”

Beberapa anggota Monrest segera menyebar ke dalam hutan, sementara Kargo tetap berdiri, tatapannya terkunci pada Lynx.

“Dan kau…” katanya sambil menunjuk Lynx dengan tombaknya. “Kau pikir bisa terus bermain-main denganku? Aku akan membuatmu menyesal telah lahir ke dunia ini.”

Lynx mengangkat bahu santai, meskipun hatinya berdetak kencang. “Cobalah kalau kau bisa. Tapi aku tidak akan bertarung di sini.”

Ia berlari ke arah hutan, sengaja memancing Kargo menjauh dari Leena, Sherly, dan Karim.

“Pengecut!” Kargo berteriak, langsung mengejar Lynx dengan kecepatan luar biasa.

Lynx terus berlari, melewati jalur-jalur jebakan yang telah ia siapkan. Tetapi Kargo tidak bodoh. Naluri hutan dan pengalaman bertahun-tahun membuatnya bisa mendeteksi setiap jebakan.

“Jebakan-jebakan ini untuk anak kecil!” ejek Kargo sambil melompati lubang yang tersembunyi. “Apa kau tidak punya cara yang lebih baik untuk melawanku?!”

Sementara Lynx menjauhkan Kargo, Leena, Sherly, dan Karim mencoba menyerang pasukan Monrest yang menyebar. Mereka melepaskan beberapa panah, berhasil menjatuhkan beberapa orang.Leena menyiapkan busur dan menarik napas dalam-dalam, matanya terfokus pada salah satu anggota Monrest yang mulai mendekati mereka.

“Aku akan melindungi mereka,” gumamnya pada dirinya sendiri sebelum melepaskan panah. Anak panah itu melesat dan mengenai bahu musuh dengan tepat, membuatnya terjatuh ke tanah sambil menjerit.

“Bagus, Leena! Kau mengenainya!” ujar Karim penuh semangat. Ia sendiri kemudian melepas busur panahnya dan memegang tombak, menunggu kesempatan untuk menyerang lebih dekat.

Namun, Sherly, yang berdiri di belakang mereka, hanya memutar matanya. “Kalian terlalu banyak bicara. Fokus saja. Atau mati.”

Satu Monrest mendekati semak-semak tempat mereka bersembunyi. Sherly, tanpa ragu, mengambil panah dari kantong Leena tanpa izin dan melepaskannya. Panah itu meleset, tetapi cukup untuk membuat Monrest itu mundur beberapa langkah.

“Sherly, kau tidak bisa mengambil panahku tanpa bilang dulu!” protes Leena.

Sherly mendengus. “Oh, jadi aku harus meminta izin dulu kalau ingin menyelamatkan nyawamu?” katanya dengan nada sarkastik.

Leena menggigit bibirnya, memilih untuk tidak memperpanjang pertengkaran di tengah pertempuran. Namun, Karim menoleh ke Sherly dengan tatapan bingung. “Kita ini satu tim. Jangan bertindak seenaknya.”

Sherly hanya mendengus kecil. “Tentu saja, bocah. Aku hanya memastikan kita tidak mati di sini. Tapi jika kalian mau mati, itu urusan kalian.”

Ketika salah satu Monrest berhasil mendekat lagi, Sherly mundur beberapa langkah, sengaja membuat Leena berada di garis depan.

“Leena, awas di belakangmu!” teriak Karim.

Leena berbalik tepat waktu untuk melihat seorang Monrest mengayunkan pedang ke arahnya. Dengan refleks cepat, ia menghindar dan menendang lutut lawannya, membuatnya jatuh ke tanah.

Sherly, yang seharusnya membantu, malah berdiri diam dengan busur di tangannya, pura-pura sibuk mencari panah. “Oh, maaf. Aku tidak melihat dia mendekat,” ujarnya dengan nada datar.

Leena terengah-engah, menyeka keringat dari dahinya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi memilih untuk fokus pada pertempuran.

Namun, Sherly terus menunjukkan niat buruknya. Saat salah satu Monrest melemparkan tombak ke arah mereka, Sherly dengan sengaja mendorong Leena sedikit ke depan.

“Awas!” teriak Karim, menarik Leena ke samping tepat waktu. Tombak itu menancap di tanah hanya beberapa inci dari tempat Leena berdiri.

Leena terkejut, menatap Sherly dengan bingung. “Apa-apaan tadi? Kau mendorongku!”

Sherly menatap Leena dengan ekspresi tak bersalah. “Aku mencoba menyelamatkanmu, bodoh. Jangan salahkan aku kalau kau terlalu lambat untuk bergerak.”

Karim mengerutkan alisnya, tetapi sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, salah satu Monrest menyerang mereka lagi.

Karim, dengan tombaknya, mencoba melawan salah satu Monrest yang menyerang mereka. Meski tubuhnya masih lemah, ia mengayunkan tombak dengan keberanian luar biasa, berhasil melukai lengan lawannya.

“Aku bisa mengalahkanmu!” teriak Karim dengan semangat, meskipun ia hampir terjatuh oleh serangan balik lawannya.

Leena datang untuk membantu, Ia mengambil tombak nya dan melompat ke depan untuk menghantam kepala musuh . Musuh itu terjatuh dan tidak bangun lagi.

Sementara itu, Sherly perlahan-lahan mundur dari kelompok mereka, menuju sisi hutan yang lebih gelap.

“Aku tidak akan mati di sini bersama mereka,” gumam Sherly pada dirinya sendiri. “Mereka hanya membuang-buang waktuku.”

Namun, sebelum Sherly bisa pergi lebih jauh, seorang Monrest yang menyadari niatnya menyerang dari belakang.

“Kau mau kabur, ya? Tidak semudah itu!” seru Monrest itu sambil mengayunkan pedangnya.

Sherly memekik, terpaksa melompat mundur dan melepaskan panah secara refleks. Panah itu mengenai kaki Monrest, membuatnya terjatuh.

“Sherly! Kau hampir meninggalkan kami?!” teriak Leena, menyadari apa yang terjadi.

Sherly terdiam sejenak, lalu memasang ekspresi marah. “Aku tidak meninggalkan siapa pun! Aku sedang mencari posisi yang lebih baik, kalau kau ingin tahu.”

Leena menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, tetapi Karim menatap Sherly dengan curiga.

Monrest yang datang semakin banyak, Leena melepaskan tombaknya dan segera mengambil busurnya kembali untuk menyerang, namun terlambat, seorang Monrest menendang busurnya.

Leena berusaha menggapai busurnya yang terjatuh, tetapi seorang Monrest menarik rambutnya dengan kasar, memaksanya untuk berlutut.

“Ah! Lepaskan aku!” Leena berteriak sambil meronta, tetapi kekuatan Monrest itu terlalu besar. Monrest itu lalu memukul perut Leena agar tidak lagi melawan. Leena yang tidak pernah mengalami hal menyakitkan seperti itu merasa dunia di sekitarnya berputar, dan dia kehilangan tenaga untuk melawan.

Karim, yang melihat Leena dalam bahaya, mencoba menyerang dengan tombaknya, tetapi pukulan keras dari gagang tombak Monrest menghantam wajahnya, membuatnya jatuh ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Kau tidak akan bisa melindungi siapapun, bocah lemah,” ujar seorang Monrest dengan nada mengejek, lalu mengikat tangan Karim dengan tali kasar.

Di balik semak-semak, Sherly memperhatikan dengan hati-hati, menimbang-nimbang situasi. Ia bisa saja membantu, tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Dalam pikirannya, Leena adalah beban yang sebaiknya disingkirkan.

“Kalau Leena tertangkap, itu salahnya sendiri,” pikir Sherly sambil memegang busurnya dengan erat. “Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan diriku sendiri. Lynx pasti akan menyelamatkan aku... jika aku berhasil keluar dari sini hidup-hidup.”

Namun, sebelum ia sempat melarikan diri, salah satu Monrest menemukannya. “Hei! Di sini ada satu lagi!” seru Monrest itu.

Sherly terkejut, mencoba menembakkan panah, tetapi Monrest itu bergerak cepat, mencengkram bahunya dan menjatuhkannya ke tanah.

“Lepaskan aku!” teriak Sherly.

Mereka bertiga diseret ke tempat terbuka, tangan dan kaki mereka diikat.

Sementara itu, Lynx berhenti di sebuah area terbuka. Ia berbalik dan mengangkat busurnya, menembakkan panah langsung ke arah Kargo. Panah itu melesat cepat, tetapi Kargo mengayunkan tombaknya, mematahkan panah di udara.

“Itu saja kemampuanmu?” tanya Kargo sambil berjalan mendekat. “Aku kira kau lebih tangguh.”

Lynx menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang. “Aku hanya pemanasan. Kau belum lihat yang sebenarnya.”

Lynx lalu mengeluarkan parangnya yang terlihat kuat dan berkilauan. Kargo memandang takjub pada senjata tersebut. Baru kali ini dia melihat senjata seperti yang dipegang musuh di depannya. Lynx berdiri tegap, dengan busur panah ditangan kiri dan tangan kanan menggenggam parang besinya dengan erat. Senjata itu tampak bersinar terkena cahaya matahari, memantulkan cahaya yang asing bagi Kargo dan para Monrest, yang terbiasa hanya menggunakan senjata kayu atau batu.

Kargo menyipitkan mata, tatapannya tertuju pada parang Lynx. "Senjata macam apa itu? Apa kau seorang dewa? Atau kau mencurinya dari surga?" tanyanya dengan suara rendah, penuh kekaguman sekaligus iri.

Lynx menyeringai. "Kau tak perlu tahu. Yang jelas, kau tidak akan pernah memilikinya."

Kargo menggeram, mencengkeram tombak kayunya lebih erat. "Kita lihat saja!"

Kargo menyerang lebih dulu, tombaknya melesat ke arah kepala Lynx dengan kecepatan mengejutkan. Lynx melompat ke samping, parang besinya berkilauan saat ia menyerang balik dengan tebasan horizontal.

"Huh!" Kargo mendengus, mengangkat tombaknya untuk menangkis serangan itu. Namun, saat parang Lynx menghantam tombak kayunya, suara keras terdengar—kayu itu retak dan patah menjadi dua bagian .

Kargo terdiam sesaat, matanya melebar karena takjub. Ia menatap tombak patahnya, lalu parang di tangan Lynx.

"Senjata ini... luar biasa," gumam Kargo. Tatapannya berubah penuh nafsu. "Aku akan mengambilnya darimu. Senjata seperti itu seharusnya milik pemimpin sejati, bukan bocah sepertimu!"

Lynx mengangkat bahunya santai. "Coba saja kalau kau bisa."

Meskipun kehilangan tombaknya, Kargo tidak gentar. Ia mencabut pedang kecil dari pinggangnya, sebuah senjata sederhana yang terbuat dari batu tajam yang diikat pada gagang kayu. Dengan raungan keras, ia menyerang Lynx dengan serangkaian tebasan brutal.

Lynx, meski memiliki keunggulan senjata, segera menyadari bahwa pengalaman bertarung Kargo jauh melampaui dirinya.

Kargo menyerang dengan gerakan cepat, memanfaatkan kekuatannya untuk menekan Lynx mundur. Lynx mencoba melawan, mengayunkan parang ke arah dada Kargo. Namun, Kargo membaca gerakan itu dengan mudah, melompat ke samping dan menyerang balik.

"Kau kuat, tapi kau terlalu mentah!" ejek Kargo sambil menghantam pergelangan Lynx dengan gagang pedangnya.

Lynx mengerang pelan saat parang di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Ia mencoba mengambilnya kembali, tetapi Kargo menendang parang itu hingga meluncur jauh.


